ANALISIS PERBANDINGAN TEKNIS PENULISAN ALIF DALAM RASM IMLAIY DAN RASM MUSHAF

Oleh: Abdul Rahim Manangin

Email: mananginabdulrahim18@gmail.com

 

Abstrak:

Penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad Saw. Dilakukan oleh para sahabat- sahabatnya baik dalam penulisannya maupun urutannya dengan tujuan untuk menyatukan kaum muslimin pada satu macam mushab dengan meyeragamkan bacaan serta menyatukan tertip susunan ayat-ayatnya. Dengan demikian tidak terjadi perbedaan pemahaman antara mushab dengan mushab yang lain[1]. Rasm Usmani sebagai pedoman untuk khath atau penulisan Al-Quran memiliki peran penting sebagai khazanah ilmu keAl-Quran-an. Sebab penulisan yang sesuai dengan Rasm Usmani tidak sama dengan penulisan imlai’, yang sudah menjadi standar susunan huruf hijaiyah. Dan Rasm Usmami memiliki enam pedoman penulisan sendiri yang sudah paten menjadi kaidah penulisan yang sesuai dengan kodifikasi Al-Quran zaman Usman bin Affan[2]

Kata kunci: Rasm, Imlaiy, Mushaf, Alif

 

A.    PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Kata Rasm artinya bekas, tulisan atau peninggalan. Adapun Rasm Usmani ialah cara penulisan kalimat-kalimat al-Quran yang telah disetujui oleh sahabat Usman bin Affan pada waktu penulisan mushaf. Secara umum dari spesifikasi cara penulisan kalimat-kalimat Arab, maka Rasm dibagi menjadi 3 macam yaitu

a.       Rasm Qiyasi

Menuliskan kalimat sesuai deng an ucapannya dengan memperhatikan waktu memulai dan berhentí pada kalimat tersebut. Rasm ini disebut juga Rasm Imla'i atau Rasm Istilahi.

b.      Rasm Arudi

Yaitu cara menuliskan kalimat-kalimat arab disesuaikan dengan wazan (timbangan) dalam sya'ir sya'ir Ansh

c.       Rasm Usmani sebagaimana telah dijeleskan definisinya di atas.

 

Rasm Imla'i banyak digunakan dalam cetakan mushat al Quran di Idonesia, walapun sebagiannya ada juga yang telah menggunakan Rasm Usmani. Rasm Usmani ini berbeda dengan rasm Imla'i dari beberapa e Adinsa perbedaan perhdaun ini menjadikan rasm usmani menjadi salah satu bagian dari cahung ileu pengetahuan ang bernama Ilmu Rasm Usmani. Perbedaan Rasm Usmani dan Rasm Ima t dipat dilibat pada beberapa contoh berikut:

Bentuk tulisan al-Quran yang tertuang dalam Rasm Usmani sebenarnya sudah ada pada permulaan abad ke-2 H. Seorang ulama yang bernama Abdullah bin Hurmus al-A'raj (w. 117 H) adalah rujukan utama dalam Rasm Usmani. Ulama lainnya ialah Imam Nafi., Imam Hamzah, Imam Ibnu 'Amir dan masih abnyak lagi. Mereka pantas menjadi rujukan dalam bidang ini karena keterlibatannya dalam dunia Qira'at yang secara tidak langsung ikut menekuni dan mencermati tulisan al-Quran. Beberapa kitab rujukan dalam llmu Rasm Usmani ialah

a.       Al-Mugni, karya Abu Amar al-Dany

b.      Al-Tanzil karya Sulaiman bin Najah, salah seorang murid al-Dany

c.       Al-Munsil, karya Ahu HasiDAN n Mahitumat al Murdi -Andalusi

d.      Agilat Atrab tlOasakaryaISvahite.

e.       Kitah Mawnd al Zami a Rana Khaan

Imam Al-Suyuti menjelaskan bahwa pokok-pokok bahasan Rasm Usmanidikelompokkan menjadi 6 lakdah:

a.       Membuang huruf (ja)

b.      Penambahan Huruf (i)

c.       Penulisan Hamzah

d.      Penggantian Huruf (J)

e.       Washal dan Fashal

f.        Kalimah yang mempunyai dua macam Qira'at atau lebih

 

Persoalan klasik yang selalu pada waktu membicarak an mengenai tulisan al- Quran adalah, Apakah al-Qunen hunus ditulis sesuai dengan cara penulisan pada masu nabi utau lebil tegasnya lagi pada musa sahabat Usman?

Jawaban yang muncul dari pertanyaan ini beram, ada yang mewajibkan dengan rasm usmani karena ia termasuk lingkaran tanqifi (Atas perintah Nabi dan sebug ain yang lain berpendapat bahwa al-Quran boleh saja ditulis sesuai dengin perkembangan ilmu pengetahuan bahasa Arab. Terlepas dari perdebitan ini, penulisan al-Quran dengan Rasm Usmani menpunyai heberapa nilai:

a.       Rasm Usmani merupikan khazanah budaya penulisan huruf-huruf Arab secara umunm pada maca al-Quran diturunk an. Dengan demikian. pemilisan dengan rasi usmani adalah rekaman sejarh dan kebudayaAILn Arab masa lalu.

b.      Rasm Usmani stung at erat kaitannya dengan generasi para Sahabat

c.       Salah satu syarat diterimanya qira'st al-Quran dari berbagai versi bacaan yang ada ablah jika qura'at tersebut cocok'sesuai pas dergan Rasm Usmani

d.      Menjaga kemarnian al Quran dan keastain al-Quran hikumnya wajib[3]

 

2.      Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan di bahas yang megandung unsur-unsur yang menarik berhubungan dengan Analisis Perbandingan Teknis Penulisan Alif Dalam Rasm Imlaiy Dan Rasm Mushaf.

 

3.      Tujuan dan Manfaat

Pada dasarnya tujuan penulisan artikel ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum dalam penyusunan artikel untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Al-Khat wa Qawaid Al-Imla. Adapun Tujuan khusus penyusunan artikel ini adalah untuk bisa menjelaskan tetang Teknis Penulisan Alif Dalam Rasm Imlaiy Dan Rasm Mushaf, yang merupakan bagian dari pada pembelajaran Bahasa Arab dan memiliki manfaat ketika mempelajari-Nya dalam mata kuliah Al-Khat wa Qawaid Al-Imla yang merupakan mata kuliah yang berkaitan tentang penulisan huruf Al-Qur’an dengan mempelajarinya bisa memberikan maanfaat dan bisa meningkatkan kita dalam kemampuan kita dalam mengenal huruf-huruf Arab dengan pemahaman yang dilandasi kaidahnya, dalam konteks ini Allah telah memberikan kemudahan bagi kita untuk mempelajarinya sebagai mana bunyi firman dalam Quran Surah Yusuf pada ayat kedua:

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ

Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS.Yusuf [12]: 2)

 

Dengan landasan ayat yang ada di atas, bisa dipahami bahwa dengan  mempelajari Mata Kuliah Al-Khat wa Qawaid Al-Imla yang membahas tentang kaidah-kaidah yang bersangkutan dengan Bahasa Arab telah dimudahkan dan akan memberikan manfaat bagi pembaca yang mempelajarinya.

Ibnu Katsir berbendapat (Abdurochman, n.d.): Bahwasanya bahasa Arab merupakan bahasa yang paling fasih (jelas dan lugas) di antara bahasa-bahasa yang ada, paling jelas, luas cakupannya dan arti kalimat yang digunakan memiliki pengaruh tersendiri bagi jiwa (hati) baik bagi yang membaca atau yang mendengar. Demikian Allah telah menurunkan al-Qur’an yang mulia dengan bahasa yang paling mulia kepada nabi yang mulia, nabi Muhamad SAW melalui perantara malaikat Jibril di penjuru dunia. Begitu juga al-Qur’an diturunkan pada suatu bulan mulia (bulan Ramadhan). Merupakan kesempurnaan satu dengan lainya

Bahasa Arab merupakan bahasa penghuni ahli surga, diriwayatkan dari Ibnu Abas: Rasulullah SAW bersabda:

احبلوا العر ب لثلا ث، لأ ني عر بي، و القر ان عر بيي، وكلام اهل الجنة عربي

Artinya: Cintailah Bahasa Arab karena tiga hal, karena saya orang Arab, al-Qur’an berbahasa Arab dan bahasa penduduk ahli surga.[4]

 

B.     PEMBAHASAN

Teknis Penulisan Alif Dalam Rasm Imlaiy Dan Rasm Mushaf (Usmani)

 

1.      Teknis Penulisan Alif dalam Rasm Usmani

Mushaf Usmani ditulis menurut kaidah-kaidah tulisan tertentu yang berbeda dengan kaidah tulisah imlak

a.       Membuang atau menghilangkan huruf alif

·         dari ya nida (ya seru)

·         dari ha tanbi (ha menarik perhatian)

·         dari kata na,

·         dari lafal Allah

·         dari dua kata “Arrohman” dan sabbihun

·         sesudah huruf lam

·         Dari semua bentuk musanna (dual)

·         dari semua bentuk jamak shahih, baik muzakkir maupun muannas

·         dari semua bentuk jamak yang setimbang

·         Dari semua kata bilangan

·         Dari basmalah

·

b.      Kaidah Penambahan (al-Ziyadah)

Penambahan (al-ziyadah) disini berarti penambahan huruf alif atau ya atau hamza pada kata-kata tertentu.

·         sesudah waw apda akhir setiap isim jama’ kata benda berbentuk jamak atau mempunya hokum jamak

·         Penambahan huruf alif sesudah hamza (hamza yang ditulis di atas rumah waw)

 

c.       Kaidah Hamzah (al-Hamzah)

Apabilah hamzah berharakat (berbaris) sukun (tanda mati), maka tulis dengan huruf berharakat yang sebelumnya, kecuali pada beberapa keadaan.

Adapun hamzah yang berharakat, maka jika ia berada diawal kata dan bersambung dengan hamah tersebut tambahan, mutlak harus ditulis dengan alif dalam keadaan berharakat fathah atau kasrah

Adapun jika hamzah terletak ditengah, maka ia ditulis sesuai dengan huruf harakatnya. Kalau fathah dengan alif, kalau kasrah dengan ya dan kalau Dhammah dengan waw. Tetapi, apabila huruf yangsebelum hamzah itu sukun, maka tidak ada tambahan. Namun, diluar tersebut ini kata yang di kecualikan.[5]

 

d.      Kata yang bisa dibaca dua bunyi

Satu kata yang boleh dibaca dengan dua cara dalam bahasa Arab penulisannya disesuaikan dengan salah satu bunyinya. Didalam mushaf Usmani penulisan kata semacam itu ditulis dengan menghilangkan alif, seperti pada kalimat maliki yaumiddin yakhdaunallah, ayat-ayat ini boleh dibaca dengan menetapkan alif (madd) dan boleh dengan suara tanpa alif sehingga bunyinya pendek.[6]

 

2.      Teknis Penulisan Alif dalam Rasm Imlaiy

Pada dasarnya, penulisan bahasa Arab harus sesuai antara apa yang tertulis dan apa yang diucapkan, tanpa harus ada penambahan dan pengurangan, sesuai kaidah yang berlaku pada penulisan bahasa Arab. Penulisan samacam ini dikenal dengan “rasm imla’î”.[7]

Dalam mushaf Al-Quran cetak yang beradar saat ini, kita mengenal dua sistem penulisan rasm Al-Qur'an yang lazim digunakan. Pertama, sistem penulisan dengan rasm qiyasi atau rasm imla’i, yaitu penulisan kata sesuai dengan pelafalan atau bacaannya.

Namun, penting dicatat bahwa kata-kata yang sudah masyhur dan baku, seperti ar-rahman (الرحمن), as-salah (الصلوة), az-zakah (الزكوة), ar-riba (الربوا), dan beberapa kata lainnya, seperti zalika (ذلك), ha’ula’i (هؤلاء), maka penulisannya tetap sebagaimana tulisan yang masyhur, sehingga tidak berbeda dengan mushaf yang ditulis dengan rasm usmani.

Jadi, yang dituliskan dengan menggunakan rasm qiyasi ialah terhadap kata-kata yang tidak memiliki tulisan baku. Dengan kata lain, tidak ada satu pun Al-Qur’an yang ditulis seluruhnya dengan rasm qiyasi atau rasm imla’i.

Kita ambil contoh, Al-Baqarah 2-3. Dalam kedua ayat ini yang ditulis dengan rasm qiyasi ialah (الكتاب) dan (رزقناهم) keduanya ditulis dengan alif setelah ta’ dan setelah nun. Sementara (ذلك) dan (الصلوة) tetap ditulis dengan tulisan yang masyhur yang sama dengan penulisan dengan rasm usmani.

Adapun mushaf yang ditulis dengan rasm qiyasi atau imla’i seperti Mushaf Turki, Mushaf Menara Kudus (Mushaf Turki), dan Mushaf Indonesia jenis Bahriyyah.[8]


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Djamillah Usup, “ILMU RASM AL-QURAN”, https://media.neliti.com/media/publications/240231-ilmu-rasm-al-quran-98e24376.pdf.

Muhammad Khoirul Anwar, “RASM USMANI DAN METODE PENULISANNYA (Telaah Kodifikasi Al-Quran dan Perkembangan Rasm Usmani Dari Zaman Usman Hingga Sekarang)”, file:///E:/22-Article%20Text-65-1-10-20181020.pdf.

Ahmad Fathoni, “Rasm Usmani”, Jakarta: Ja’mi Ulum al-Quran, 2012, https://www.slideshare.net/zulhassultra/ilmu-rasm-usmani-pdf.

Isabela Gobel, “KARAKTERISTIK IBDAL ALIF WA DAN YA DAN KAIDAHNYA DALAM ILMU RASM MUSHAF DAN IMLA”

Al-Zakqani, MNuhammad Abd al-Azim, op,cit (jilit I).

Enam Pola Penulisan Al-Qur’an yang Berbeda dari Kaidah Arab Konvensional,  https://islam.nu.or.id/post/read/98280/enam-pola-penulisan-al-quran-yang-berbeda-dari-kaidah-arab-konvensional

Fakhrur Rozi, “DUA PERBEDAAN PENULISAN RASM DALAM AL-QUR'AN CETAK”, https://lajnah.kemenag.go.id/artikel/386-dua-perbedaan-penulisan-rasm-dalam-al-qur-an-cetak.



[4] Isabela Gobel, “KARAKTERISTIK IBDAL ALIF WA DAN YA DAN KAIDAHNYA DALAM ILMU RASM MUSHAF DAN IMLA”, h. 3.

[5] Djamillah Usup, “ILMU RASM AL-QURAN”, https://media.neliti.com/media/publications/240231-ilmu-rasm-al-quran-98e24376.pdf, h. 8, diakses pada, Senin 10 Agustus, 2020.

Komentar